Selasa, 14 Mei 2013



IAID

IAID(Institut Agama Islam Darussalam) adalah sebuah perguruan tinggi yang terletak di Ciamais Jawa Barat, setiap tahunnnya IAID mendapat mahasiswa baru yang terbagi atas beberapa jurusan diantaranya Tarbiyah, Syariah. Setiap tahun IAID menyelenggarakan acara Ta’aruf Mahasiswa Darussalam yang biasa disebut TAMADA.
Pelaksanaan TAMADA dilakukan selama 3 hari, yang didalamnya terdapat beberapa kegiatan. Semua mahasiswa dan mahasiswi diajak berbaur saling mengenal satu sama lain, selain itu mahasiswa dan mahasiswi diperkenalkan berbagai hal tentang IAID, seperti bagaimana perkuliahannya ada dua macam kelas. Pertama kelas reguler dalam kelas ini, ada tiga hari perkuliahan untuk waktunya biasanya disesuaikan dengan jurusan yang diambil. Kedua kelas karyawan, kelas ini juga sama mengambil tiga hari perkuliahan. Selain program sarjana(S1) ada juga program pasca sarjana(S2), mahasiswa dan mahasiswi datang dari berbagai tempat, salah satunya datang dari kota Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, Aceh. Selain di Ciamis IAID juga membuka kelas jauh yaitu ada di Pangandaran, selain lulusan dari IAID dosennya pun ada yang datang dari bandung, dan Jogyakarta.
IAID juga memberikan wadah bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk berkreatifitas, selain BEM banyak juga seperti ektrakulikuler lainnya seperti HMJ, HMI, selain itu mahasiswi bisa mengikuti kelas tari atau paduan suara, seperti tari Saman. untuk yang menyukai olahraga mahasiswa atau mahasiswi bisa memilih bola volly, sepak bola.    

Selasa, 07 Mei 2013



Jumlah wa’an wa’iha

Diajukan  untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bahasa Arab
Dosen Pengampu : sofia ratna awaliyah fitri, M.Pd.I















                                                               


Disusun oleh :
Santi mawarni


FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
(IAID)
CIAMIS JAWA BARAT
 2013







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jumlah
Jumlah dalam bahasa arab berarti “kalimah” didalam bahasa indonesia yaitu kalimah yang mempunyai faidah sempurna.
B.     Pembagian jumlah
1.      Jumlah ismiyah
Jumlah yang awal katanya berupa isim.
Contoh :

مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ                 (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi

اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ     (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit
2.         Jumlah Fi’liyah

            Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il.

Contoh :

جَاءَ مُحَمَّدٌ                (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang

رَجَعَ الأُسْتَاذُُ           (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali

             Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (شبه الجملة).




C.    Sibhul Jumlah

           
Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih.

1.    جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ        (jaarun wa majruurun)

            Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim

Contoh :

عَلَى السَّمَاءِ          (‘alassamaai) = di atas langit

 مِنَ اللهِ                   (minallahi) = dari Allah

  فِي السُّوْقِ            (fissuuqi) = di dalam pasar

2.    ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)

            Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim

Contoh :

أمَامَ المَنْزِلِ          (amaamal manzili) = di depan rumah

فَوْقَ البَيْتِ            (fauqol baiti) = di atas rumah

وَرَاءَ المَسْجِدِ       (warooal masjidi) = di belakang masjid

            Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist.  Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.

Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى            (walillahil asmaa’ul husna)

            Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
            Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.

            Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.

Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :

مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ      (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??

Maka sang ayah pun menjawab:

نجومها                       (nujuumuha) = bintang-bintangnya

Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.

Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah.

مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ       (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit.

            Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Jumlah dalam bahasa arab berarti “kalimah” didalam bahasa indonesia yaitu kalimah yang mempunyai faidah sempurna.
Jumlah terbagi menjadi dua yaitu :
1.      Jumlah ismiyah yang berarti jumlah yang awal katanya beupa isim.
2.      Jumlah fi’liyah yang berarti jumlah yang awal katanya adalah fi’il.

 











Daftar pustaka



Senin, 06 Mei 2013



A Choise

Hidup itu adalah memilih, memilih itu berarti bertahan hidup. Itu adalah sebuah rumusan yang di tuliskan oleh tuhan untuk penghuni alam ini, tapi manusia itu egois, serakah, dan selalu ingin mendapatkan apa yang ingin didapatkannya. Ketika masalah datang menghadapinya mereka  tertunduk sedianya orang yang tidak berdaya, mengemis sedianya orang yang tidak mampu bertahan lagi, terdiam sedianya  orang tidak mampu berbicara akan semua hal. Tapi saat mereka mampu untuk berdiri mereka akan lupa saat mereka tertunduk,mengemis, dan terdiam. Mereka merasa laksana matahari di siang hari yang cahayanya panas dan menyilaukan, laksana angin yang bertiup kencang yang meratakan seisi dunia ini. Sejak itu mereka lupa akan penciptanya, mereka lupa terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, tetapi saat itu mereka hanya sedang tertidur dan bermimpi indah, mereka belum tersadar dan masih terjaga dalam mimpi indahnya.
Yakinlah masih ada sang maha penguasa lebih dari mereka, yang bisa menghentikan panasnya sinar matahari, yang bisa menghentikan angin yang bertiup kencang, bahkan itu tidak seberapa,ketauhilah bahwa  mimpi indah mereka itu hanyalah ujian mereka, adalah pilihan mereka dalam hidup ini, babak penentuan dalam hidup ini, siapa yang akan berhasil ? hanya mereka lah orang yang mampu membuat sinar matahari menjadi hangat dan menumbuhkan pohon dan bunga, hanya merekalah yang mampu membuat angin yang bertiup kencang menjadi angin yang sejuk dan membawa kebahagiaan.