Jumlah wa’an wa’iha
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah Bahasa
Arab
Dosen Pengampu :
sofia
ratna awaliyah fitri, M.Pd.I
Disusun oleh :
Santi mawarni
FAKULTAS
TARBIYAH
PRODI
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
(IAID)
CIAMIS JAWA BARAT
2013
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Jumlah
Jumlah dalam bahasa arab berarti
“kalimah” didalam bahasa indonesia yaitu kalimah yang mempunyai faidah
sempurna.
B. Pembagian jumlah
1. Jumlah
ismiyah
Jumlah
yang awal katanya berupa isim.
Contoh :
مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi
اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit
Contoh :
مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi
اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit
2.
Jumlah Fi’liyah
Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il.
Contoh :
جَاءَ مُحَمَّدٌ (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang
رَجَعَ الأُسْتَاذُُ (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali
Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (شبه الجملة).
Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il.
Contoh :
جَاءَ مُحَمَّدٌ (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang
رَجَعَ الأُسْتَاذُُ (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali
Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (شبه الجملة).
C. Sibhul Jumlah
Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih.
1. جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ (jaarun wa majruurun)
Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim
Contoh :
عَلَى السَّمَاءِ (‘alassamaai) = di atas langit
مِنَ اللهِ (minallahi) = dari Allah
فِي السُّوْقِ (fissuuqi) = di dalam pasar
2. ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)
Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim
Contoh :
أمَامَ المَنْزِلِ (amaamal manzili) = di depan rumah
فَوْقَ البَيْتِ (fauqol baiti) = di atas rumah
وَرَاءَ المَسْجِدِ (warooal masjidi) = di belakang masjid
Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist. Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.
Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى (walillahil asmaa’ul husna)
Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.
Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.
Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :
مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??
Maka sang ayah pun menjawab:
نجومها (nujuumuha) = bintang-bintangnya
Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.
Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah.
مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit.
Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.
Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih.
1. جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ (jaarun wa majruurun)
Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim
Contoh :
عَلَى السَّمَاءِ (‘alassamaai) = di atas langit
مِنَ اللهِ (minallahi) = dari Allah
فِي السُّوْقِ (fissuuqi) = di dalam pasar
2. ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)
Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim
Contoh :
أمَامَ المَنْزِلِ (amaamal manzili) = di depan rumah
فَوْقَ البَيْتِ (fauqol baiti) = di atas rumah
وَرَاءَ المَسْجِدِ (warooal masjidi) = di belakang masjid
Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist. Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.
Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى (walillahil asmaa’ul husna)
Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.
Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.
Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :
مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??
Maka sang ayah pun menjawab:
نجومها (nujuumuha) = bintang-bintangnya
Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.
Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah.
مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit.
Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jumlah dalam bahasa arab berarti
“kalimah” didalam bahasa indonesia yaitu kalimah yang mempunyai faidah
sempurna.
Jumlah
terbagi menjadi dua yaitu :
1. Jumlah
ismiyah yang berarti jumlah yang awal katanya beupa isim.
2. Jumlah
fi’liyah yang berarti jumlah yang awal katanya adalah fi’il.
Daftar pustaka
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-8-jumlah-mufidah.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-9-syibhul-jumlah.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-9-syibhul-jumlah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar